Tampilkan postingan dengan label Naik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

BI: Imbas Global, CDS Indonesia Ikut Naik

,
Rupiah (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)
BERITA TERKAIT
  • Jaga Rupiah, BI Diimbau Intervensi CDS
  • Hedge Fund Bertaruh Atas Rupiah?
  • Darmin: Jaga Rupiah Belum Gunakan Valas
  • BI Serap SUN Rp230 M, Pemerintah Rp4,15 T
  • Jadi Amunisi Rupiah, Cadangan Devisa Aman

VIVAnews - Bank Indonesia menilai melemahnya nilai tukar rupiah pekan lalu lebih banyak disebabkan oleh faktor global, seperti yang terjadi di Eropa dan Amerika. Krisis utang global itu berdampak pada kenaikan credit default swap (CDS).

Peneliti Senior Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI), Elizabeth Sukowati, mengatakan kenaikan CDS tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga negara lain. Meski demikian, secara fundamental, perekonomian Indonesia masih bagus.

“Fundamental ekonomi kita masih bagus, dari sisi domestik juga masih kuat. Kenaikan CDS itu tidak hanya Indonesia, tapi saya lihat beberapa negara juga CDS-nya bergerak (naik)," kata dia di Gedung BI, Jakarta, Senin, 3 Oktober 2011.

Apakah para hedge fund bertaruh atas default suatu negara dengan instrumen CDS? Sukowati menjelaskan, krisis yang terjadi di Yunani dan negara Eropa, serta Amerika penyebabnya karena utang yang tinggi. Kondisi itu menimbulkan spekulasi apakah Yunani akan mampu membayar surat utangnya, karena defisit fiskal mencapai 80 persen, belum ditambah utang yang besar.

Jika investor tidak percaya, mereka akan menjual surat berharga yang dimilikinya, sehingga harga jatuh.

“Masyarakat tidak lagi percaya dengan Yunani, dan akhirnya mereka menjual surat berharga dengan harga yang murah. Karena banyak yang menjual dan mengalami kerugian, akhirnya mengalami kekurangan likuiditas,” paparnya.

Sebelumnya, pelaku pasar membisikkan bahwa kejatuhan nilai rupiah disinyalir merupakan ulah para hedge fund yang bertaruh atas default suatu negara atau perusahaan dengan instrumen CDS (credit default swap). Bahkan Dalam beberapa tahun terakhir, kontrak CDS sering dijadikan indikator kesehatan keuangan perusahaan atau negara terkait penerbitan surat utang.

Bahkan, seperti dikutip dari Reuters, beberapa pejabat pemerintah di negara Eropa mengatakan para spekulator seperti hedge fund menggunakan kontrak CDS itu untuk memengaruhi kasus gagal bayar utang di Yunani dan menekan nilai tukar euro. (art)

Read more

Tarif Tol Naik, Ini Kata Pengusaha

,
Jalan Tol (Antara/ Jafkhairi)
BERITA TERKAIT
  • Ini Tarif Baru 12 Ruas Tol
  • Mulai 28 September, Tarif 10 Ruas Tol Naik
  • Pembangunan Jalan Tol Dibuat Lebih Aman
  • Mangkrak, Tol Ruas Depok-Antasari Dibangun
  • Tol Trans Jawa, 15 Lahan Siap Dibebaskan

VIVAnews - Pengusaha menilai kenaikan tarif tol akan mempengaruhi biaya distribusi dan pasokan barang.  Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Siswaja Lukman, mengatakan bahwa kenaikan tarif akan berdampak dalam dua hal, distribusi barang dan pasokan bahan baku. "Itu pengaruhnya," kata dia ketika dihubungi VIVAnews.com, Rabu, 5 Oktober 2011.

Sebab, kata Adhi, proses distribusi dan pasokan bahan baku dilakukan melalui jalur tol sehingga dipastikan akan ada kenaikan biaya distribusi. Namun, mengenai persentasenya, Adhi mengaku belum menghitung.

Kenaikan tarif tol, lanjutnya, akan berpengaruh terhadap harga jual produk makanan dan minuman. "Kalau memungkinkan kenaikan biaya tol akan kami serap, tetapi kalau tidak terpaksa kami menaikkan harga jual," tutur Adhi.

Ketua Bidang Perdagangan, Logistik, dan Perhubungan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Harry Warganegara, menilai naiknya tarif tol di sejumlah ruas tak akan berpengaruh banyak terhadap ongkos transportasi barang dan jasa. Sebab, ongkos tol hanya sebagian kecil dari total ongkos produksi.

"Sayangnya pengusaha Indonesia sering latah, kalau tarif tol naik 20 persen harga barang juga naik 20 persen," kata dia saat berbincang dengan VIVAnews.com. "Kondisi ini yang membuat harga barang semakin tidak kompetitif."

Agar semakin kompetitif, Harry mengatakan, pemerintah justru harus memperbaiki infrastruktur. Selama ini biaya mahal distribusi sering terjadi akibat antrean truk di pelabuhan, kemacetan, dan jalanan yang rusak.  "Apalagi jalan tolnya sedikit. Hanya ada di Jawa. Itu saja terbatas.

Harry menilai, kenaikan tarif tol ini wajar, mengingat tarif tol di Indonesia masih murah. "Ini yang menyebabkan investor enggan masuk ke jalan tol." katanya.

Sebelumnya, Kementerian PU mengeluarkan Keputusan Menteri PU Nomor 277/KPPS/M/2011 tentang Penyesuaian Tarif 14 Ruas Tol pada tanggal 27 September 2011. Tarif tol baru tersebut berlaku pada 7 Oktober 2011, pukul 00.00 WIB.

Menurut Menteri PU, Djoko Kirmanto, sesuai Undang-undang Nomor 38/2004, evaluasi dan penyesuaian tarif tol dilakukan setiap dua tahun sekali, dengan perhitungan ada penambahan inflasi.

Read more
 

Blog Berita Online Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger